YOU DOGS !!

29 Mar

Anjing-anjing itu kembali lagi. Mereka memang tak tahu diuntung. Seenaknya datang, apapun yang orang pikirkan tentang mereka. Dipimpin oleh seekor anjing geladak hitam besar hampir raksasa yang selalu menyeringai, mereka menyebar begitu saja di sudut-sudut lingkungan tempat tinggalku, seperti air yang selalu mencari tempat yang paling rendah. Aku tak pernah berhasil mengetahui nama si alpha male pemimpin ini, walaupun pernah aku memancing untuk mencoba bersahabat dengannya lewat sepotong sirloin sisa makananku semalam. Yang aku tahu cuma satu hal yang aneh dan tak relevan : ada satu selipan daging busuk di sela-sela taring atasnya. Setiap kali aku melihatnya, serpihan daging tadi selalu ada di sana, menjuntai tak keruan seperti umbai cacing dari usus buntu manusia. Ah, nanti akan kubersihkan gigimu dengan tusuk gigi setelah kau kubunuh.

Ya, aku memang berencana membunuh mereka. Keputusanku telah final. Walaupun mungkin besok aku harus repot membersihkan bangkai-bangkai beludak itu dari lingkunganku, tak akan aku mundur dibuatnya. Telah lama aku membenci mereka yang kencing di sembarang tempat begitu saja. Atau kawin-mengawin tepat di bawah jendelaku di siang hari bolong. What the fuck were they thinking ? Ah, entahlah. Yang pasti, aku jengah dan muak mendengar gonggongan mereka. Ya, hal itulah yang paling kubenci dari kirik-kirik peranakan Cerberus ini. Bunyi mereka. See ? Itulah masalahnya dengan telinga. Kau tak bisa menutupnya begitu saja seperti kau memejamkan matamu saat seseorang mengiris daging pada bagian betismu tipis-tipis. Atau apakah itu adegan dari film yang kutonton malam tadi ?

Aku tak peduli bahkan jika pengadilan kota menghukumku dengan pekerjaan sosial sekian ratus jam pun. Mau dituntut kriminal pun boleh-boleh saja. Anjing toh bukan manusia. Paling tidak ini berarti bahwa aku melakukan suatu hal untuk kepentingan orang-orang di sekitarku juga toh ? Manusia kebanyakan memang begitu. Mereka sebenarnya selalu mendambakan untuk melakukan satu hal yang kotor, namun tak pernah punya cukup nyali untuk benar-benar melakukannya. Coba saja kau berkeliling dan tanyakan kepada orang-orang yang tinggal di sekitarku apakan mereka ingin anjing-anjing itu mati. Mereka tak tahu, bahwa yang menjijikkan bukanlah kegiatan membunuh anjing-anjing tadi, namun kemunafikan mereka yang esok hari akan gantian mencercaku atas nama perikebinatangan. Ah, fuck you, Body Shop !

OK. Sekarang tinggal menimbang-nimbang seperti apa aku akan melakukannya. Ada tiga hal yang siap digunakan di tanganku. Racun tikus, parang dan pistol yang berisi dua butir peluru. Jangan tanya dari mana aku mendapatkan benda-benda tadi. Kita tak punya waktu cukup untuk menceritakannya. Tidakkah kau dengar lolongan menjijikkan mereka ? Really, it’s more than enough to drive a man crazy. Lebih baik kita melakukannya sekarang, sebelum aku berubah pikiran. Racun tikus adalah pilihan yang paling aman. Parang dan pistol akan membuat segalanya terlalu berantakan. Bisa – bisa terlalu banyak pekerjaan yang harus kulakukan untuk membersihkan tubuh mereka yang berantakan. OK, kalau begitu racun tikus. Mari kita mencampurnya dengan apapun yang kumiliki dalam kulkas.

——————————–

Ah, bagus, There you go. Si Hitam pemimpin mendekati piring penuh makanan beracun itu dan mengendusnya dengan penuh minat. Namun harapanku langsung runtuh waktu kulihat ia mundur dua langkah dan berpaling pergi. Para pengikutnya pun seperti manut saja dan pergi mengekor tanpa menengok ke belakang lagi, tak seperti istri Lot yang berubah menjadi tiang garam. Ah, mungkin memang lebih mudah meracuni keluarga si Lot tua itu daripada seekor anjing. Atau mungkin memang aku yang tak mengerti sistem peranjingan, lantaran kebanyakan menghabiskan waktu hidupku untuk memanipulasi manusia. Ah, persetan ! Sudah terlambat untuk mengubah pikiranku sekarang. Kuambil pistol yang terletak di bawah cermin riasku di sebelah sisir dan botol parfum. Lantas kuiisi dia dengan dua butir peluru yang kumiliki.

Percobaanku dengan racun tikus yang gagal tadi memberiku satu pelajaran. Yang harus kulakukan hanyalah membunuh Si Hitam tadi, dan pengikutnya pun akan pergi sendiri, terkaing-kaing dengan ekor terselip di antara kaki belakang mereka. Dus, bahkan jika aku mencerai-beraikan jeroan si Hitam dengan peluruku, pekerjaan pembersihan yang harus kulakukan setelahnya tak akan seberat yang kuperkirakan sebelumnya. Omong-omong, sudahkah kuceritakan bahwa aku belajar menembak dari tetangga nenekku yang pada masa mudanya hidup sebagai pemburu, – persis seperti di cerita-cerita Jack London. Saat aku meninggalkan rumah nenekku dua belas tahun yang lalu, ia pula yang menghadiahkan si Haram Jadah ini sebagai kado perpisahan, – julukannya untuk sepucuk pistol hitam yang kini kugenggam di tanganku.

Jadi, kenapa aku masih gemetar saat aku akan membidik Si Hitam itu ? Apakah karena ada nyawa yang akan tercabut karenanya ? Stop it. Kamu banci atau apa ? Benar. Kenapa sekarang harus kupikirkan alasan-alasan yang meringankan untuk binatang terdakwa itu ? Kuangkat pistolku, kubidik Si Hitam tepat di tengah-tengah kedua matanya yang memandangiku kebingungan. Ah, matamu ternyata berwarna coklat seperti tahi. BAM !! BAM !!

——————————-

PRAGUE, 6 March 2009. A man was found dead in his lone apartment in the fifth floor of Melantrich Apartments. Apparently just woken up from his sleep, there are no indications of a break-in and homicide. In fact, the authority said that everything pointed out to the possibility of suicide. The victim had two bullets lodged deep inside his brain and his wall was so full of two words written in red lipstick : You Dogs !

Advertisements

5 Responses to “YOU DOGS !!”

  1. Koen June 9, 2009 at 8:57 pm #

    Kematian tak cukup bisa menggentarkanku. Tapi sesuatu yang bisa mengilhami terciptanya fiksi semacam ini agak membuatku terpojok.

  2. unquote June 9, 2009 at 9:18 pm #

    Hahaha, Mas Kun bisa aja. Was that a compliment or a criticism ?

    Makasih udah mampir ke blog sederhana saya ya Mas 🙂

  3. unquote June 9, 2009 at 9:18 pm #

    Hahaha, Mas Kun bisa aja. Was that a compliment or a criticism ?

    Makasih udah mampir ke blog sederhana saya ya Mas 🙂

  4. fikri October 5, 2010 at 6:58 am #

    menarik sekali mas! gaya bahasa tulisannya ga kalah keren dari tulisan bahasa inggris mas fajar! salute!

    tapi sayangnya sedikit detail yang mengganggu adalah kalau two bullets in the head akan mematahkan teori bunuh diri.. a person will instantly dead on the first shot in the head, right? 😀

    • fajarjasmin October 5, 2010 at 7:52 am #

      Hey, you’re right… I didn’t realize that…

      Maklum cuma penulis iseng-iseng, hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: