Archive | Works RSS feed for this section

Ford Mustang GT 350 SR

28 Jan

 

Could be better. I was too lazy and rushing things toward the end.  Oh well.

– Derwent Graphic Pencils: 6H, H, HB, 2B, 4B, 7B, 9B

– Winsor/Newton acid free paper

– Winsor/Newton spray fixative

Advertisements

A Lost Piece

28 Mar

The year 2105.  Somewhere in Indonesia.

A yellowed lost sheet of paper rode on the wind.  When it finally dropped on the ground, the following words were written on it:

Senja,

Harusnya aku bisa tertawa,

Tapi kini aku mengeram durja;

Dulu kau menebar jingga,

Sekarang? Kau menguar lara, pekat jelaga;

 

Senja,

Harusnya aku bisa tertawa,

Tapi kini namamu Nestapa,

– ataukah Karbon Dioksida?

Aku lupa….

 

The writer was never known.  Nor was she ever found.

YOU DOGS !!

29 Mar

Anjing-anjing itu kembali lagi. Mereka memang tak tahu diuntung. Seenaknya datang, apapun yang orang pikirkan tentang mereka. Dipimpin oleh seekor anjing geladak hitam besar hampir raksasa yang selalu menyeringai, mereka menyebar begitu saja di sudut-sudut lingkungan tempat tinggalku, seperti air yang selalu mencari tempat yang paling rendah. Aku tak pernah berhasil mengetahui nama si alpha male pemimpin ini, walaupun pernah aku memancing untuk mencoba bersahabat dengannya lewat sepotong sirloin sisa makananku semalam. Yang aku tahu cuma satu hal yang aneh dan tak relevan : ada satu selipan daging busuk di sela-sela taring atasnya. Setiap kali aku melihatnya, serpihan daging tadi selalu ada di sana, menjuntai tak keruan seperti umbai cacing dari usus buntu manusia. Ah, nanti akan kubersihkan gigimu dengan tusuk gigi setelah kau kubunuh.

Ya, aku memang berencana membunuh mereka. Keputusanku telah final. Walaupun mungkin besok aku harus repot membersihkan bangkai-bangkai beludak itu dari lingkunganku, tak akan aku mundur dibuatnya. Telah lama aku membenci mereka yang kencing di sembarang tempat begitu saja. Atau kawin-mengawin tepat di bawah jendelaku di siang hari bolong. What the fuck were they thinking ? Ah, entahlah. Yang pasti, aku jengah dan muak mendengar gonggongan mereka. Ya, hal itulah yang paling kubenci dari kirik-kirik peranakan Cerberus ini. Bunyi mereka. See ? Itulah masalahnya dengan telinga. Kau tak bisa menutupnya begitu saja seperti kau memejamkan matamu saat seseorang mengiris daging pada bagian betismu tipis-tipis. Atau apakah itu adegan dari film yang kutonton malam tadi ?

Aku tak peduli bahkan jika pengadilan kota menghukumku dengan pekerjaan sosial sekian ratus jam pun. Mau dituntut kriminal pun boleh-boleh saja. Anjing toh bukan manusia. Paling tidak ini berarti bahwa aku melakukan suatu hal untuk kepentingan orang-orang di sekitarku juga toh ? Manusia kebanyakan memang begitu. Mereka sebenarnya selalu mendambakan untuk melakukan satu hal yang kotor, namun tak pernah punya cukup nyali untuk benar-benar melakukannya. Coba saja kau berkeliling dan tanyakan kepada orang-orang yang tinggal di sekitarku apakan mereka ingin anjing-anjing itu mati. Mereka tak tahu, bahwa yang menjijikkan bukanlah kegiatan membunuh anjing-anjing tadi, namun kemunafikan mereka yang esok hari akan gantian mencercaku atas nama perikebinatangan. Ah, fuck you, Body Shop !

OK. Sekarang tinggal menimbang-nimbang seperti apa aku akan melakukannya. Ada tiga hal yang siap digunakan di tanganku. Racun tikus, parang dan pistol yang berisi dua butir peluru. Jangan tanya dari mana aku mendapatkan benda-benda tadi. Kita tak punya waktu cukup untuk menceritakannya. Tidakkah kau dengar lolongan menjijikkan mereka ? Really, it’s more than enough to drive a man crazy. Lebih baik kita melakukannya sekarang, sebelum aku berubah pikiran. Racun tikus adalah pilihan yang paling aman. Parang dan pistol akan membuat segalanya terlalu berantakan. Bisa – bisa terlalu banyak pekerjaan yang harus kulakukan untuk membersihkan tubuh mereka yang berantakan. OK, kalau begitu racun tikus. Mari kita mencampurnya dengan apapun yang kumiliki dalam kulkas.

——————————–

Ah, bagus, There you go. Si Hitam pemimpin mendekati piring penuh makanan beracun itu dan mengendusnya dengan penuh minat. Namun harapanku langsung runtuh waktu kulihat ia mundur dua langkah dan berpaling pergi. Para pengikutnya pun seperti manut saja dan pergi mengekor tanpa menengok ke belakang lagi, tak seperti istri Lot yang berubah menjadi tiang garam. Ah, mungkin memang lebih mudah meracuni keluarga si Lot tua itu daripada seekor anjing. Atau mungkin memang aku yang tak mengerti sistem peranjingan, lantaran kebanyakan menghabiskan waktu hidupku untuk memanipulasi manusia. Ah, persetan ! Sudah terlambat untuk mengubah pikiranku sekarang. Kuambil pistol yang terletak di bawah cermin riasku di sebelah sisir dan botol parfum. Lantas kuiisi dia dengan dua butir peluru yang kumiliki.

Percobaanku dengan racun tikus yang gagal tadi memberiku satu pelajaran. Yang harus kulakukan hanyalah membunuh Si Hitam tadi, dan pengikutnya pun akan pergi sendiri, terkaing-kaing dengan ekor terselip di antara kaki belakang mereka. Dus, bahkan jika aku mencerai-beraikan jeroan si Hitam dengan peluruku, pekerjaan pembersihan yang harus kulakukan setelahnya tak akan seberat yang kuperkirakan sebelumnya. Omong-omong, sudahkah kuceritakan bahwa aku belajar menembak dari tetangga nenekku yang pada masa mudanya hidup sebagai pemburu, – persis seperti di cerita-cerita Jack London. Saat aku meninggalkan rumah nenekku dua belas tahun yang lalu, ia pula yang menghadiahkan si Haram Jadah ini sebagai kado perpisahan, – julukannya untuk sepucuk pistol hitam yang kini kugenggam di tanganku.

Jadi, kenapa aku masih gemetar saat aku akan membidik Si Hitam itu ? Apakah karena ada nyawa yang akan tercabut karenanya ? Stop it. Kamu banci atau apa ? Benar. Kenapa sekarang harus kupikirkan alasan-alasan yang meringankan untuk binatang terdakwa itu ? Kuangkat pistolku, kubidik Si Hitam tepat di tengah-tengah kedua matanya yang memandangiku kebingungan. Ah, matamu ternyata berwarna coklat seperti tahi. BAM !! BAM !!

——————————-

PRAGUE, 6 March 2009. A man was found dead in his lone apartment in the fifth floor of Melantrich Apartments. Apparently just woken up from his sleep, there are no indications of a break-in and homicide. In fact, the authority said that everything pointed out to the possibility of suicide. The victim had two bullets lodged deep inside his brain and his wall was so full of two words written in red lipstick : You Dogs !

Interlude – A Cannibal’s Love Letter

22 Oct

Dear Butterfly,

Are you there ? Wherever there is ? Are you there, crossing your feet on top of each other, sipping your coffee while observing the sky from behind those cat-eye glasses of yours ?
3 days, 8 months and 11 years. That’s exactly how long since the last time I’ve seen you. You see, I’ve been counting. I’ve been counting my days since I walked out of your door that Sunday evening. And wondering. What happened ? What happened to our warm bubble of lovemaking ? What happened to turn a butterfly back to what it used to be, – an ugly caterpillar ? Reverse metamorphosis ? Unable to find out, I did likewise. I regressed to mankind’s most primal existence. I dug deep to its most primitive desire. I feed.
It’s been downhill since. Life after you was black. Black. Bleak. Dark. Naked. Torn. I can only see two colors now : Black and Red. And because red is the only bright hue I can see in this otherwise insipid monochrome damned world of mine, I got addicted to it. And because there is nothing redder than blood. The beautiful crimson. Once tasted, forever hooked.
I wonder how does it feel like ? Sitting on the lap of somebody who betrayed your closest one ? Prowling around on the green grass like two carefree children who escaped their mother’s vigilant attention ?  Basking in the orange rays of Singaporean dusk, I bet treason tasted good then, eh ? You see, what dumbfounded me was, – and constantly is, what was on your mind ? Why would you do such thing ? Broken promises ? Unsung odes ? I searched and searched and searched, until it hit me. It’s just a plain, blatant, stinking backstabbing at its most ugliest.
They say fight fire with fire. Would a fire be hot enough to consume the vile stench of what you did ? When you kill someone, the best way to avoid the stinky decomposition fumes is by eating the body. See the logic now ? I do not eat to hide the traces. I feast on the glorious vermillion of blood and meat and eliminates the obnoxious smell at one stroke.
In a way, what I’ve been doing is searching. I’ve been searching for that critical point where our universe was bent into an unrecognizable shape. Answers. Reasons. Motives. Explanations. Triggers. Did I start the doomed chain reaction myself ? Was it some involuntary decision of mine that somehow created a different, twisted perception to you ? And searched I did.
Even until I found you myself. Even until I chew on your finger one by one. Even as portions of our limbs are joined together in my grinder to create the most tantalizing and delectable meat paté you’ve ever had. I won’t stop, my dear butterfly. If I can not bend heaven, then I will stir hell for an answer. And before I can do that, I will have to pass the ultimate border of all : death itself. Oh, I’ll do it gladly enough. We’ll do it together, remember ? I will die asking, slowly, smiling. Looking into diminishing glow of life in your pretty eyes.
P.S.  I Love You, don’t you forget that